pemikiran yg jernih akan menghasilkan sebuah karya seni yg membuat kita bahkan tak percaya kalau itu karya kita jadi semangatkan dirimu untuk berfikir yang jernih

Minggu, 11 November 2012

laporan pendahuluan epilepsi


ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EPILEPSI

Oleh : Azharie, Skep, Ns



PENDAHULUAN

Epilepsi atau penyakit ayan dikenal sebagai satu penyakit tertua di dunia (2000 tahun SM). Penyakit ini cukup sering dijumpai dan bersifat menahun. Penderita akan menderita selama bertahun-tahun. Sekitar 0,5 – 1 % dari penduduk adalah penderita epilepsy (Lumbantobing, 1998).


DEFINISI

Bangkitan epilepsy adalah manifestasi gangguan otak dengan berbagai gejala klinis, disebabkan oleh lepasnya muatan listrik dari neuron-neuron otak secara berlebihan dan berkala tetapi reversible dengan bernagai etiologi (Tjahjadi, dkk, 1996).

Epilepsy adalah kompleks gejala dari beberapa kelainan fungsi otak yang ditandai dengan terjadinya kejang secara berulang. Dapat berkaitan dengan kehilangan kesadaran, gerakan yang berlebihan, atau kehilangan tonus atau gerakan otot, dan gangguan prilaku suasana hati, sensasi dan persepsi (Brunner dan suddarth, 2000).

Kejang adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang besifat sementara. Istilah epilepsy biasanya merupakan suatu kelaianan yang bersifat kronik yang timbul sebagai suatu bentuk kejang berulang (Hudak dan Gallo, 1996).

ETIOLOGI

Tumor otak                                                                Trauma otak (5-50%)
Bekuan darah pada otak                                        Meningitis
Gangguan elektrolit                                                 Ensefalitis
Gejala putus alcohol/obat                                      Gangguan metabolic
Toksik substans                                                       Anoksia cerebral
Sebagian kejang merupakan idiopatik

PRINSIP-PRINSIP PATOFISIOLOGI

Mekanisme yang pasti dari aktivitas kejang pada otak tidak semuanya dapat dipahami. Beberapa pemicu menyebabkan letupan abnormal mendadak stimulasi listrik, menganggu konduksi syaraf normal otak. Pada otak yang tidak rentan terhadap kejang, terdapat keseimbangan antar sinaptik eksitatori dan inhibitori yang mempengaruhi neuron postsinaptik. Pada otak yang rentan terhadap kejang, keseimbangan ini mengalami gangguan, menyebabkan pola ketidakseimbangan konduksi listrik yang disebut perpindahan depolarisasi paroksismal. Perpindahan ini dapat terlihat baik ketika terdapat pengaruh eksitatori yang berlebihan atau pengaruh inhibitori yang tidak mencukupi (Hudak dan Gallo, 1996).

Ketidakseimbangan asetilkolin dan GABA. Asetilkolin dalam jumlah yang berlebihan menimbulkan bangkitan kejang, sedangkan GABA menurunkan eksitabilitas dan menekan timbulnya kejang.


KLASIFIKASI INTERNASIONAL TENTANG KEJANG EPILEPSI

(dikutip dari Hudak dan Gallo, 1996)

I.          Kejang Parsial
a.    Parsial sederhana (kesadaran klien baik)
1.    Motorik
2.    Sensorik
3.    Otonimi
4.    Fisik
b.    Parsial kompleks (kerusakan kesadaran)
1.    Parsial sederhana diikuti penurunan kesadaran
2.    Kerusakan kesadaran saat awitan
c.    Kejang parsial generalisasi sekunder
II.        Kejang Umum
a.    Non kejang
b.    Tonik-klonik umum
c.    Tonik
d.    Klonik
e.    Mioklonik
f.     Atonik
III.       Kejang Tidak terklasifikasi


MANIFESTASI KLINIK


Kejang Parsial Sederhana

Hanya jari atau tangan yang bergetar; atau mulut yang bergerenyut tak terkontrol; bicara tidak dapat dimengerti; mungkin pening; dapat mengalami perubahan penglihatan, suara, bau atau pengecapan yang tak lazim atau tak menyenangkan.

Kejang Parsial Kompleks

Masih dalam keadaan sedikit bergerak atau gerakan secara otomatis tetapi tidak bertujuan; dapat mengalami perubahan emosi, ketakutan, marah, kegirangan, atau peka rangsang yang berlebihan; tidak mengingat periode tersebut ketika sudah berlalu.



Kejang Umum (kejang grand Mal)
Mengenai kedua hemisfer otak, kekuatan yang kuat dari seluruh tubuh diikuti dengan perubahan kedutan dari relaksasi otot dan kontraksi (kontraksi tonik klonik umum)

FASE SERANGAN KEJANG
1.    Fase Prodromal
Beberapa jam/hari  sebelum seranga kejang. Berupa perubahan alam rasa (mood), tingkah laku

2.    Fase Aura
Merupakan fase awal munculnya serangan. Berupa gangguan perasaan, pendengaran, penglihatan, halusinasi, reaksi emosi afektif yang tidak menentu.

3.    Fase Iktal
Merupakan fase serangan kejang, disertai gangguan muskuloskletal.
Tanda lain : hipertensi, nadi meningkat, cyanosis, tekanan vu meningkat, tonus spinkter ani meningkat, tubuh rigid-tegang-kaku, dilatasi pupil, stridor, hipersalivasi, lidah resiko tergigit, kesadaran menurun.

4.    Fase Post Iktal
Merupakan fase setelah serangan. Ditandai dengan : confuse lama, lemah, sakit kepala, nyeri otot, tidur lama, amnesia retrograd, mual, isolasi diri.

STATUS EPILEPTIKUS
Serangan kejang yang terjadi berulang, merupakan keadaan darurat. Berakibat kerusakan otak permanen, dapat disebabkan karena : peningkatan suhu yang tinggi, penghentian obat epileptik, kurang tidur, intoksikasi obat, trauma otak, infeksi otak.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.    Elektroensefalografi (EEG) membentu dalam mengklasifikasikan tipe kejang.
2.    CT Scan untuk mendeteksi lesi, abnormalitas fokal, abnormalitas vaskuler cerebral, dan perubahan degeneratif serebral.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksaan epilepsy direncanakan sesuai dengan program jangka panjang dan dibuat untuk memenuhi kebutuhan khusus masing-masing klien.

Tujuan dari pengobatan adalah untuk menghentikan kejang sesegera mungkin, untuk menjamin oksigenasi serebral yang adekuat, dan untuk mempertahankan klien dalam status bebas kejang.

Pengobatan Farmakologis
1.    Pengobatan biasanya dimulai dengan dosis tunggal.
2.    Pengobatan anti konvulsan utama termasuk karbamazepin, primidon, fenitoin, fenobarbital, etosuksimidin, dan valproate.
3.    Lakukan pemeriksaan fisik secara periodic dan pemeriksaan laboratorium untuk klien yang mendapatkan obat yang diketahui mempunyai efek samping toksik.
4.    Cegah terjadinya hiperplasi gingival dengan hygiene oral yang menyeluruh, perawatan gigi teratur, dan masase gusi teratur untuk klien yang mendapatkan fenitoin (Dilantin).


Pembedahan
1.    Diindikasikan bila epilepsy diakibatkan oleh tumuor intrakranial, abses, kista, atau anomaly vaskuler.
2.    Pengangkatan secara pembedahan pada focus epileptogenik dilakukan untuk kejang yang berasal dari area otak yang terkelilingi dengan baik yang dapat dieksisi tanpa menghasilkan kelainan neurologis yang signifikan.

PROSES KEPERAWATAN
Pengkajian
1.    Riwayat kesehatan yang berhubungan dengan factor resiko bio-psiko-sosial-spiritual.
Data subyektif : usia mulai mengalami sreanga, frekuensi serangan, factor presipitasi (suhu tinggi, kurang tidur, keadaan emosional labil), pernah mengalami skit berta yang disertai kejang. Pernah sakit cedera otak, operasi otak. Pernah minum obat tertentu/alcohol. Ada riwayat penyakit yang sama dalam keluarga.

2.    Aktifitas/Istirahat
Data subyektif : keadaan umum yang lemah, lelah, menyatakan keterbatasan aktifitas, tidak dapat merawat diri sendiri.

Data obyektif : menurunnya kekuatan otot/otot lemah.

3.    Peredaran darah
Data obyektif : didapat data pada saat serangan : hipertensi, denyut nadi meningkat, cyanosis. Setelah serangan tanda vital mungkin normal atau mungkin disertai nadi dan pernafasan menurun.

4.    Eliminasi
Data subyektif : tidak dapat menahan BAB dan BAK

Data obyektif : saat serangan tekanan VU dan otot spinkter meningkat. Setelah serangan dalam keadaan inikontinensia otot-otot VU dan spinkter rileks.

5.    Makanan/cairan
Data subyektif : selama serangan makanan sangat sensitive

Data obyektif : gigi/gusi mengalami kerusakan selama serangan, gusi hiperplasi/bengkak akibat samping obat dilantin.

6.    Persyarafan
Data subyektif : selama serangan ada riwayat nyeri kepala, kehilngankesadaran/pingsan, kehilangan kesadaran sesaat/lena, klien menangis, jatuh ke lantai, disertai komponen motorik seperti kejang tonik-klonik, mioklonik, tonik, klonik, atonik. Klien menggigit lidat, mulut berbuih, ada inkontinensia urin dan feces, bibir-muka berubah warna/cyanosis
     
Sesudah serangan : klien mengalami letargi, bingung, nyeri otot, gangguan bicara, nyeri kepala. Ada perubahan gerakan seperti hemiplegi sementara, klien ingat/tidak ingat kejadian yang menimpanya. Terjadi/tidak terjadi perubahan tingkat kesadaran, pernafasan, dan denyut nadi.
     
7.    Konsep diri
Data subyektif : merasa rendah diri, ketidak berdayaan, tidak mempunyai harapan.

Data obyektif : selalu waspada/berhati-hati dalam hubungan dengan orang lain.

8.    Interaksi social
Data subyektif : mengalami gangguan interaksi dengan orang lain/keluarga karena malu.

Diagnosa dan Rencana Keperawatan
1.    Resiko cedera s.d perubahan kesadaran, kerusakan kognitif selama kejang atau kerusakan mekanisme perlindungan diri.

Tujuan keperawatan :
Klien terbebas dari resiko cedera fisik.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    
Intervensi :
a.     Bersama klien mengidentifikasi factor yang dapat menyebabkan serangan tiba-tiba.
b.     Bila serangan tidak terjadi di tempat tidur letakkan bantal di bawah kepala klien atau letakkan kepala klien di pangkuan perawat untuk mencegah supaya kepala tidak terbentur ke lantai.
c.     Bila klien mengalami aura, ajarkan klien untuk berbaring sebelum kejang terjadi untuk mencegah jatuh.
d.     Observasi tanda vital, gunakan terkmometer aksila.
e.     Dampingi klien saat serangan berlangsung untuk mencegah bahaya luka fisik, aspirasi, lidah tergigit.
f.      Miringkan kepala untuk mencegah aspirasi.
g.     Pertahankan patensi jalan nafas atau pasang spatel lidah selama kejang jika dapat dipasang dengan aman sebelum rahang mengatup.
h.    Hindarkan alat-alat yang mebahayakan.
i.      Longgarkan pakaian yang sempit dan taha ekstrimitas.
j.       Berikan O2 tambahan selama dan setelah kejang.
k.     Pertahankan aliran dan selang-selang selama aktifitas kejang karena akses IV adalah kritis.
l.      Catat aktifitas motorik dan status keadaan umum klien selama kejang.

Tindakan kolaboratif :
a.    Berikan obat-obatan sesuai program, missal anti epileptik, luminal, diazepam, glucose, thiamine, dll
b.    Monitor dan catat efek samping obat.
c.    Monitor tingkat keseimbangan elektrolit, glucose.


2.    Resiko jalan nafas tidak efektif/resiko pola nafas tidak efektif s.d sumbatan trachebroncheal, menurunnya kesadaran.

Tujuan Keperawatan :
Jalan nafas/pola nafas efektif, tidak terjadi aspirasi.

Intervensi ;
a.    Bila klien tak sadar, jaga agar jalan nafas tetap lancar dan terbuka. Observasi tanda vital, agar nutrisi/cairan dan elektrolit tetap seimbang, bila perlu beri infus.
b.    Bila terdapat lendir pada jalan nafas, lakukan suction.
c.    Miringkan kepala untuk mencegah aspirasi.
d.    Berikan O2 tambahan sesuai program.


3.    Gangguan konsep diri  : harga diri rendah s.d  menderita epilepsy, tidak bisa mengontrol diri saat serangan kejang terjadi.


Tujuan Keperawatan :
Klien dapat mengidentifikasi perasaan, pola koping yang posistif/negatif. Secara verbal mempunyai harga diri meningkat. Menerima keadaan dirinya dan perubahan fungsi-peran-gaya hidup yang dihadapi.

Intervensi ;
a.    Diskusikan tentang perasaan klien.
b.    Dorong klien untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya.
c.    Kaji kemampuan klien yang positif sesuai dengan keadaan sehingga dapat memanfaatkan kemampuan tersebut untuk meningkatkan harga diri klien dan dapat hidup di masyarakat.

Tindakan kolaboratif :
a.    bila perlu anjurkan klien untuk mengikuti kelompok penderita epilepsy.
b.    Diskusikan dengan psychoterapist bila perlu tentang keadaan klien.

4.    Kurang pengetahuan s.d kebutuhan penatalaksanaan  penyakit secara mandiri.

Tujuan Keperawatan :
a.    Klien mengungkapkan pemahaman tentang diagnosa, pengobatan, rencana pengobatan, dan tindakan pengamanan.
b.    Klien/keluarga akan mengungkapkan apa yang dilakukan jika klien mengalami kejang.
c.    Klien akan menyadari dari mana sumber-sumber informasi dan dukungan selanjutnya dapat diperoleh.

Intervensi ;
a.    Kaji keadaan patologis/kondisi klien dan pengobatan yang pernah didapat klien.
b.    Berikan informasi (verbal/tulisan) tentang keadaan klien dan regimen terapi.
c.    Diskusikan tentang pentingnya kontrol dan minum obat secara teratur.
d.    Jelaskan pada klien tentang keadaan yang sedang dihadapi klien dan factor-faktor yang da[pat menimbulkan serangan.
e.    Jelaskan keadaan yang aharus dihadapi terhadap keadaannya, seperti pekerjaan, mengendarai mobil, olah raga dan rekreasi.
f.     Anjurkan klien untuk selalu membawatanda pengenal bila bepergian.
g.    Perbaiki kesalahan persepsi tentang penyakit.
h.    Validasi pemahaman klien/keluarga tentang hal-hal yang ada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar