pemikiran yg jernih akan menghasilkan sebuah karya seni yg membuat kita bahkan tak percaya kalau itu karya kita jadi semangatkan dirimu untuk berfikir yang jernih

Kamis, 24 Januari 2013

CIDERA KEPALA (COB)


CIDERA KEPALA

I.          PENGERTIAN

Cidera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstiil dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak.
Cidera otak primer:
Adalah kelainan patologi otak yang timbul segera akibat langsung dari trauma. Pada cidera primer dapat terjadi: memar otak, laserasi.
Cidera otak sekunder:
Adalah kelainan patologi otak disebabkan kelainan biokimia, metabolisme, fisiologi yang timbul setelah trauma.
Proses-proses fisiologi yang abnormal:
-          Kejang-kejang
-          Gangguan saluran nafas
-          Tekanan intrakranial meningkat yang dapat disebabkan oleh karena:
·         edema fokal atau difusi
·         hematoma epidural
·         hematoma subdural
·         hematoma intraserebral
·         over hidrasi
-          Sepsis/septik syok
-          Anemia
-          Shock
Proses fisiologis yang abnormal ini lebih memperberat kerusakan cidera otak dan sangat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas.

Perdarahan yang sering ditemukan:
·         Epidural hematom:
Terdapat pengumpulan darah diantara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah/cabang-cabang arteri meningeal media yang terdapat di duramater, pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena itu sangat berbahaya. Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1 – 2 hari. Lokasi yang paling sering yaitu dilobus temporalis dan parietalis.
Tanda dan gejala:
penurunan tingkat kesadaran, nyeri kepala, muntah, hemiparesa. Dilatasi pupil ipsilateral, pernapasan dalam dan cepat kemudian dangkal, irreguler, penurunan nadi, peningkatan suhu.

·         Subdural hematoma
Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak, dapat terjadi akut dan kronik. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena/jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater, perdarahan lambat dan sedikit. Periode akut terjadi dalam 48 jam – 2 hari atau 2 minggu dan kronik dapat terjadi dalam 2 minggu atau beberapa bulan.
Tanda dan gejala:
Nyeri kepala, bingung, mengantuk, menarik diri, berfikir lambat, kejang dan edema pupil.
·         Perdarahan intraserebral
Perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri, kapiler, vena.
Tanda dan gejala:
Nyeri kepala, penurunan kesadaran, komplikasi pernapasan, hemiplegi kontralateral, dilatasi pupil, perubahan tanda-tanda vital.
·         Perdarahan subarachnoid:
Perdarahan didalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak, hampir selalu ada pada cedera kepala yang hebat.
Tanda dan gejala:
Nyeri kepala, penurunan kesadaran, hemiparese, dilatasi pupil ipsilateral dan kaku kuduk.

Penatalaksanaan:
Konservatif
  • Bedrest total
  • Pemberian obat-obatan
  • Observasi tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran.

Pengkajian
BREATHING
Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama jantung, sehingga terjadi perubahan pada pola napas, kedalaman, frekuensi maupun iramanya, bisa berupa Cheyne Stokes atau Ataxia breathing. Napas berbunyi, stridor, ronkhi, wheezing ( kemungkinana karena aspirasi), cenderung terjadi peningkatan produksi sputum pada jalan napas.
BLOOD:
Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah bervariasi. Tekanan pada pusat vasomotor akan meningkatkan transmisi rangsangan parasimpatik ke jantung yang akan mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat, merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial. Perubahan frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi dengan bradikardia, disritmia).

BRAIN
Gangguan kesadaran merupakan salah satu bentuk manifestasi adanya gangguan otak akibat cidera kepala. Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian, vertigo, sinkope, tinitus, kehilangan pendengaran, baal pada ekstrimitas. Bila perdarahan hebat/luas dan mengenai batang otak akan terjadi gangguan pada nervus cranialis, maka dapat terjadi :
  • Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan memori).
  • Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan sebagian lapang pandang, foto fobia.
  • Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri), deviasi pada mata.
  • Terjadi penurunan daya pendengaran, keseimbangan tubuh.
  • Sering timbul hiccup/cegukan oleh karena kompresi pada nervus vagus menyebabkan kompresi spasmodik diafragma.
  • Gangguan nervus hipoglosus. Gangguan yang tampak lidah jatuh kesalah satu sisi, disfagia, disatria, sehingga kesulitan menelan.

BLADER
Pada cidera kepala sering terjadi gangguan berupa retensi, inkontinensia uri, ketidakmampuan menahan miksi.

BOWEL
Terjadi penurunan fungsi pencernaan: bising usus lemah, mual, muntah (mungkin proyektil), kembung dan mengalami perubahan selera. Gangguan menelan (disfagia) dan terganggunya proses eliminasi alvi.

BONE
Pasien cidera kepala sering datang dalam keadaan parese, paraplegi. Pada kondisi yang lama dapat terjadi kontraktur karena imobilisasi dan dapat pula terjadi spastisitas atau ketidakseimbangan antara otot-otot antagonis yang terjadi karena rusak atau putusnya hubungan antara pusat saraf di otak dengan refleks pada spinal selain itu dapat pula terjadi penurunan tonus otot.

Pemeriksaan Diagnostik:
  • CT Scan: tanpa/dengan kontras) mengidentifikasi adanya hemoragik, menentukan ukuran ventrikuler, pergeseran jaringan otak.
  • Angiografi serebral: menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan, trauma.
  • X-Ray: mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur garis (perdarahan / edema), fragmen tulang.
  • Analisa Gas Darah: medeteksi ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial.
  • Elektrolit: untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan intrakranial.
Prioritas perawatan:
  1. memaksimalkan perfusi/fungsi otak
  2. mencegah komplikasi
  3. pengaturan fungsi secara optimal/mengembalikan ke fungsi normal.
  4. mendukung proses pemulihan koping klien/keluarga
  5. pemberian informasi tentang proses penyakit, prognosis, rencana pengobatan, dan rehabilitasi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN:
1)      Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah (hemoragi, hematoma); edema cerebral; penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia, disritmia jantung)
2)      Resiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak). Kerusakan persepsi atau kognitif. Obstruksi trakeobronkhial.
3)      Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan  perubahan transmisi dan/atau integrasi (trauma atau defisit neurologis).
4)      Perubahan proses pikir b. d perubahan fisiologis; konflik psikologis.
5)      Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan persepsi atau kognitif. Penurunan kekuatan/tahanan. Terapi pembatasan /kewaspadaan keamanan, misal: tirah baring, imobilisasi.
6)      Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan  jaringan trauma, kulit rusak, prosedur invasif. Penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh. Kekurangan nutrisi. Respon inflamasi tertekan (penggunaan steroid). Perubahan integritas sistem tertutup (kebocoran CSS)
7)      Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk mencerna nutrien (penurunan tingkat kesadaran). Kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah, menelan. Status hipermetabolik.
8)      Perubahan proses keluarga berhubungan dengan  transisi dan krisis situasional. Ketidak pastian tentang hasil/harapan.
9)      Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemajanan, tidak mengenal informasi. Kurang mengingat/keterbatasan kognitif.

 



II.  RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

1)      Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah (hemoragi, hematoma); edema cerebral; penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia, disritmia jantung)
Tujuan:
  • Mempertahankan tingkat kesadaran biasa/perbaikan, kognisi, dan fungsi motorik/sensorik.
Kriteria hasil:
  • Tanda vital stabil dan tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK

Intervensi
Rasional
Tentukan faktor-faktor yg  menyebabkan koma/penurunan perfusi jaringan otak dan potensial peningkatan TIK.

Pantau /catat status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar GCS.

Evaluasi keadaan pupil, ukuran, kesamaan antara kiri dan kanan, reaksi terhadap cahaya.




Pantau tanda-tanda vital: TD, nadi, frekuensi nafas, suhu.








Pantau intake dan out put, turgor kulit dan membran mukosa.





Turunkan stimulasi eksternal dan berikan kenyamanan, seperti lingkungan yang tenang.

Bantu pasien untuk menghindari /membatasi batuk, muntah, mengejan.
Tinggikan kepala pasien 15-45 derajad sesuai indikasi/yang dapat ditoleransi.


Batasi pemberian cairan sesuai indikasi.



Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.


Berikan obat sesuai indikasi, misal: diuretik, steroid, antikonvulsan, analgetik, sedatif, antipiretik.


Penurunan tanda/gejala neurologis atau kegagalan dalam pemulihannya setelah serangan awal, menunjukkan perlunya pasien dirawat di perawatan intensif.

Mengkaji tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam menentukan lokasi, perluasan dan perkembangan kerusakan SSP.

Reaksi pupil diatur oleh saraf cranial okulomotor (III) berguna untuk menentukan apakah batang otak masih baik. Ukuran/ kesamaan ditentukan oleh keseimbangan antara persarafan simpatis dan parasimpatis. Respon terhadap cahaya mencerminkan fungsi yang terkombinasi dari saraf kranial optikus (II) dan okulomotor (III).

Peningkatan TD sistemik yang diikuti oleh penurunan TD diastolik (nadi yang membesar) merupakan tanda terjadinya peningkatan TIK, jika diikuti oleh penurunan kesadaran. Hipovolemia/hipertensi dapat mengakibatkan kerusakan/iskhemia cerebral. Demam dapat mencerminkan kerusakan pada hipotalamus. Peningkatan kebutuhan metabolisme dan konsumsi oksigen terjadi (terutama saat demam dan menggigil) yang selanjutnya menyebabkan peningkatan TIK.

Bermanfaat sebagai ndikator dari cairan total tubuh yang terintegrasi dengan perfusi jaringan. Iskemia/trauma serebral dapat mengakibatkan diabetes insipidus. Gangguan ini dapat mengarahkan pada masalah hipotermia atau pelebaran pembuluh darah yang akhirnya akan berpengaruh negatif terhadap tekanan serebral.

Memberikan efek ketenangan, menurunkan reaksi fisiologis tubuh dan meningkatkan istirahat untuk mempertahankan atau menurunkan TIK.

Aktivitas ini akan meningkatkan tekanan intrathorak dan intraabdomen yang dapat meningkatkan TIK.
Meningkatkan aliran balik vena dari kepala sehingga akan mengurangi kongesti dan oedema atau resiko terjadinya peningkatan TIK.

Pembatasan cairan diperlukan untuk menurunkan edema serebral, meminimalkan fluktuasi aliran vaskuler TD dan TIK.

Menurunkan hipoksemia, yang mana dapat meningkatkan vasodilatasi dan volume darah serebral yang meningkatkan TIK.

Diuretik digunakan pada fase akut untuk menurunkan air dari sel otak, menurunkan edema otak dan TIK,. Steroid menurunkan inflamasi, yang selanjutnya menurunkan edema jaringan. Antikonvulsan untuk mengatasi dan mencegah terjadinya aktifitas kejang. Analgesik untuk menghilangkan nyeri . Sedatif digunakan untuk mengendalikan kegelisahan, agitasi. Antipiretik menurunkan atau mengendalikan demam yang mempunyai pengaruh meningkatkan metabolisme serebral atau peningkatan kebutuhan terhadap oksigen.

2)      Resiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak). Kerusakan persepsi atau kognitif. Obstruksi trakeobronkhial.
Tujuan:
·         mempertahankan pola pernapasan efektif.
       Kriteria evaluasi:
·         bebas sianosis, GDA dalam batas normal
Intervensi
Rasional
Pantau frekuensi, irama, kedalaman pernapasan. Catat ketidakteraturan pernapasan.


Pantau dan catat kompetensi reflek gag/menelan dan kemampuan pasien untuk melindungi jalan napas sendiri. Pasang jalan napas sesuai indikasi.

Angkat kepala tempat tidur sesuai aturannya, posisi miirng sesuai indikasi.

Anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam yang efektif bila pasien sadar.

Lakukan penghisapan dengan ekstra hati-hati, jangan lebih dari 10-15 detik. Catat karakter, warna dan kekeruhan dari sekret.



Auskultasi suara napas, perhatikan daerah hipoventilasi dan adanya suara tambahan yang tidak normal misal: ronkhi, wheezing, krekel.

Pantau analisa gas darah, tekanan oksimetri

Lakukan ronsen thoraks ulang.


Berikan oksigen.



Lakukan fisioterapi dada jika ada indikasi.

Perubahan dapat menandakan awitan komplikasi pulmonal atau menandakan lokasi/luasnya keterlibatan otak. Pernapasan lambat, periode apnea dapat menandakan perlunya ventilasi mekanis.

Kemampuan memobilisasi atau membersihkan sekresi penting untuk pemeliharaan jalan napas. Kehilangan refleks menelan atau batuk menandakan perlunaya jalan napas buatan atau intubasi.

Untuk memudahkan ekspansi paru/ventilasi paru dan menurunkan adanya kemungkinan lidah jatuh yang menyumbat jalan napas.

Mencegah/menurunkan atelektasis.


Penghisapan biasanya dibutuhkan jika pasien koma atau dalam keadaan imobilisasi dan tidak dapat membersihkan jalan napasnya sendiri. Penghisapan pada trakhea yang lebih dalam harus dilakukan dengan ekstra hati-hati karena hal tersebut dapat menyebabkan atau meningkatkan hipoksia yang menimbulkan vasokonstriksi yang pada akhirnya akan berpengaruh cukup besar pada perfusi jaringan.

Untuk mengidentifikasi adanya masalah paru seperti atelektasis, kongesti, atau obstruksi jalan napas yang membahayakan oksigenasi cerebral dan/atau menandakan terjadinya infeksi paru.

Menentukan kecukupan pernapasan, keseimbangan asam basa dan kebutuhan akan terapi.

Melihat kembali keadaan ventilasi dan tanda-tandakomplikasi yang berkembang misal: atelektasi atau bronkopneumoni.

Memaksimalkan oksigen pada darah arteri dan membantu dalam pencegahan hipoksia. Jika pusat pernapasan tertekan, mungkin diperlukan ventilasi mekanik.

Walaupun merupakan kontraindikasi pada pasien dengan peningkatan TIK fase akut tetapi tindakan ini seringkali berguna pada fase akut rehabilitasi untuk memobilisasi dan membersihkan jalan napas dan menurunkan resiko atelektasis/komplikasi paru lainnya.
3)      Resiko tinggi terhadap infeksi b.d jaringan trauma, kulit rusak, prosedur invasif. Penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh. Kekurangan nutrisi. Respon inflamasi tertekan (penggunaan steroid). Perubahan integritas sistem tertutup (kebocoran CSS)
Tujuan:
Mempertahankan normotermia, bebas tanda-tanda infeksi.
      Kriteria evaluasi:
Mencapai penyembuhan luka tepat waktu.
Intervensi
Rasional
Berikan perawatan aseptik dan antiseptik, pertahankan tehnik cuci tangan yang baik.

Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan, daerah yang terpasang alat invasi, catat karakteristik dari drainase dan adanya inflamasi.

Pantau suhu tubuh secara teratur, catat adanya demam, menggigil, diaforesis dan perubahan fungsi mental (penurunan kesadaran).

Anjurkan untuk melakukan napas dalam, latihan pengeluaran sekret paru secara terus menerus. Observasi karakteristik sputum.

Berikan antibiotik sesuai indikasi



Cara pertama untuk menghindari terjadinya infeksi nosokomial.

Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan terhadap komplikasi selanjutnya.

Dapat mengindikasikan perkembangan sepsis yang selanjutnya memerlukan evaluasi atau tindakan dengan segera.

Peningkatan mobilisasi dan pembersihan sekresi paru untuk menurunkan resiko terjadinya pneumonia, atelektasis.

Terapi profilatik dapat digunakan pada pasien yang mengalami trauma, kebocoran CSS atau setelah dilakukan pembedahan untuk menurunkan resiko terjadinya infeksi nosokomial.













Daftar pustaka

Abdul Hafid (1989), Strategi Dasar Penanganan Cidera Otak. PKB Ilmu Bedah XI – Traumatologi , Surabaya.

Doenges M.E. (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3 . EGC. Jakarta.

Sjamsuhidajat, R. Wim de Jong (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. EGC, Jakarta.

LAPORAN PENDAHULUAN KLIEN DENGAN GANGGUAN ALAM PERASAAN DEPRESI


LAPORAN  PENDAHULUAN

1.        Kasus (masalah utama)
Gangguan alam perasaan :Depresi

2.        Proses terjadinya masalah
2.1 Definisi
                      Gangguan alam perasaan adalah suatu keadaan atau suasana hati yang mempengaruhi seseorang dalam jangka waktu yang lama dan di gunakan untuk komunikasi social, menggerakan fisik, kesadaran diri, pertahanan psikodinamik.
                         Depresi  adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi  yang disertai komponen Psikologik ; rasa susah,murung,sedih, putus asa dan tidak bahagia serta komponen somatic : anoreksia,konstipasi,kulit lembab.(rasa dingin) tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.
                      Depresi adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai perasaan sedih dan berduka berlebihan dan berkepanjangan.
2.2 rentang respon
 

Respon adaptif                                                                 Respon maladaptif




Kepekaan emosional  Reaksi berduka     Supresi     Penundaan                    Depresi
                                    Tak terkomplikasi  emosi   reaksi berduka
1.      Kepekaan emosional
Termasuk di pengaruhi oleh dan berperan aktiv dalam dunia internal dan external. Tersirat bahwa orang tersebut berduka dan sadar akan perasaan dirinya.
2.      Reaksi berduka tak berkomplikasi
Terjadi sebagai respon terhadap kehilangan dan tersirat bahwa seseorang sedang menghadapi suatu kehilangan yang nyata serta terbenam dalam proses berduka.
3.      Supresi emosi
Mungkin tampak sebagi penyangkalan ( denial ) terhadap perasaan sendiri, pelepasan dari keterikatan dengan emosi, atau penalaran terhadap semua aspek dari dunia afektif seseorang.
4.      Penndaan reaksi berduka tau berkabung.
Adalah ketidak adaan yang persistem respon emosional terhadap kehilangan. Ini dapat terjadi pada proses awal berkabung dan menjadi proses nyata pada  kemunduran proses, mulai terjadi atau keduanya. Penundaan dan penolakan proses berduka kadang terjadi bertaun-taun.
5.      Depresi
Adalah suatu kesedihan atau perasaan berduka yang berkepanjangan dapat digunakan untuk menunjukkan berbagi fenomena, tanda gejala, sindrom, keadaan emosional, reaksi, penyakit atau klinik.
2.3 Fraktor predisposisi
Berbagai teori telah di ajukan untuk menjelaskan gangguan alam persaan alam  yang parah. Teori ini menunjukkan tentang factor-faktor penhyebab yang mungkin bekerja sendiri atau dalam kombinasi.
a.       Faktor genetic
Dianggap mempengaruhi transmisi gangguan afektif melalui riwayat keluarga atau keturunan.
b.      Teori agresi-menyerang kedalam
Menunjukkan bahwa depresi terjadi karena perasaan marah yang ditunjukkan kepada diri sendiri.
c.       Teori kehilangan objek
Merujuk kepada perpisahan traumatic individu dengan benda atau yang sangat berarti.
d.      Teori organisasi kepribadian
Menguraikan bagaimana konsep diri yang negative dan harga diri rendah mempengaruhi system keyakinan dan penilaian seseorang terhadap stressor.



e.       Model kognitif
Menyatakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh evaluasi negative seseorang terhadap diri seseorang, dunia seseorang dan masa depan seseorang.
f.       Model ketidakberdayaan yang dipelajari
Menunjukkan bahwa bukan semata-mata trauma menyebabkan depresi tetapi keyakinan bahwa seseorang tidak mempunyai kendali terhadap hasil yang penting terhadap kehidupannya, oleh karna itu ia mengulang respon adaptif.
g.      Model perilaku
Berkembang dati kerangka teori belajar social yang mengasumsi penyebab depresi terletak pada kurnagnya keinginan positif dalam berinteraksi dengan lingkungan,
h.      Model biologic
Menguraikan perubahan kimia dalam tubuh yang terjadi selam masa depresi termasuk devisiansi katekolamin,disfungsi endokrin,hipersekresi kortisol, dan variasi periodic dalam irama biologis
2.4   Stresor prespitasi
Ada empat sumberdaya utama yang dapat mencetuskan gangguan alam perasaan :
1)      Kehilangan keterikatan
Yang nyata atau yang di bayangkan,termasukan  kehilang  cinta seseorang, fungsi fisik, kedudukan atau harga diri.
2)      Peristiwa besar dalam kehidupan
Sering di laporkan sebagai pendahuluan episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalah -  masalah  yang di hadapi sekarang  dan kemampuan menyelesaikan masaalah
3)      Peran dan ketegangan peran
Telah di laporkan mempengaruhi perkembangan depresi terutama pada wanita.


4)      Perubahan fisiologik
Diakibatkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi, neoplasma dan gangguan keseimbangaan metabolik, kehilangan kasih sayang, kehilanggan harga diri,dll
5)      Sumber koping
Sumber-sumber koping meliputi status sosioekonomik, keluarga, jaringan interpersonal,dan organisasi sekunder yang dilindungi oleh lingkungan social yang lebih luas. Kurangnya sumber personal tersebut menambah stress bagi individu
Faktor – faktor  resiko pada depresi adalah :
·         Episode depresi sebelumnya
·         Riwayat keluarga tentang depresi
·         Percobaan bunuh diri sebelumnya
·         Jenis kelamin wanita
·         Usia saat awitan depresi < 40 tahun
·         Masa post partum
·         Morbiditas medic
·         Kurangnya dukungan social
·         Peristiwa kehidupan yang penuh stress
·         Riwayat personal tentang penganiayaan seksual
6)      Mekanisme koping
Reaksi berduka yang tertunda mencerminkan penggunaan eksagresasi dari mekanisme pertahanan penyangkalan (denial) dan supresi  yang berlebihan dalam upayanya untuk menghindari stress yang hebat berhubungan dengan duka.Depresi yaitu perasaan berduka  yang belum terselesaikan.mekanisme koping yang di gunakaan  adalah  represi,supresi,denial dan disosiasi
7)      Kriteria Untuk  Penentu Keparahan Episode Depresi
a)      Ringan
Jika ada gejala yang melebihi dari yang di perlukan untuk membuat diagnosis dan gejala menyebabkan hanya gangguan ringan dalam fungsi perkerjaan  atau dalam aktivitas social yang biasanya hubungan dengan orang lain
b)      Sedang
Gejala atau gangguan fungsional berada diantara ringan dan parah
c)      Berat
¨      Tanpa ciri psikotik
Beberapa gejala adalah melebihi yang diperlukan untuk membuat diagnosis  dan gejala dengan jelas menggangu fungsi  pekerjaan atau aktivitas social yang biasanya atau hubungan dengan orang lain.
¨      Dengan ciri psikotik
Waham atau halusinasi, jika mungkin sejalan dengan mood atau tidak sejalan dengan mood.

3.        Pohon masalah

Kerusakaan komunikasi verbaL                           (akibat)

Gangguan alam perasaan  :depresI                      (care problem)

Ketidak berdayaan : mengambil keputusan         (penyebab)

4.        Data  yang perlu di kaji dan masalah keperawatan
4.1  Data yang dikaji dan tanda gejalanya
Data Subyektif:
Tidak mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara.Sering mengemukakan keluhan somatic seperti ; nyeri abdomen dan dada, anoreksia, sakit punggung,pusing. Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan hidup, merasa putus asa dan cenderung bunuh diri. Pasien mudah tersinggung dan ketidakmampuan untuk konsentrasi.


Data Obyektif:
·      Afektif : - kemarahan                                 - harga dir
- ansietas                                       - rasa tidak berharga
- penyangkalan perasaan              - keputusasaan
- kemurungan
·      Fisiologi : - insomnia
- gangguan
- kelesuan
- keletihan
·      Kognitif : - kebingungan
- ketidak mampuan konsentrasi
- tidak dapat mengambil keputusan
- kehilangan minat dan motivasi
- mencela diri sendiri

·      Perilaku : - Perubahan tingkat aktivita
- sangat tergantung
- kebersihan diri kerang
4.2  Masalah keperawatan
1.         Kerusakaan komunikasi verbal
2.         Gangguan alam perasaan :depresi
3.         Ketidak berdayaan mengambil keputusa

5.        Diagnosa keperawatan
1.      Kerusakan komunikasi verbal
2.      Gangguan alam persaan : depresi
3.      Ketidak berdayaan mengambil keputusan





6.        Rencana tindakan keperawatan
Diagnosa keperwatan : kerusakaan komunikasi verbal
·                               TUM   : Klien dapat berkomunikasi dengan  orang lain secara maksimal
·                               TUK      :
1.         Klien dapat membina hubungan saling percaya
2.         Klien dapat mengidentifikasi komponen yang dimiliki
3.         Klien dapat menilai kemampuan yang di gunakan
4.         Klien dapat melakukan komunikasi sesuai kondisinya
























DAFTAR PUSTAKA
Aziz R, dkk. 2003. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang. RSJP Dr.Amina : Gondo Utama
Carpenito, Lynda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC http://www.scribd.com/LP-perilaku-kekerasan diakses pada Senin 06 Juni 2011
Keliat, BA. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC
Materi Kuliah Keperawatan Jiwa Akademi Keperawatan Pamenang Pare Kediri
Stuard G. W dan L.J Sundeen. 1991. Principles and Practice of Phsychiatric Nursing. St. Louis : Mosby Year Book
Tim Direktorat Keswa. 2001. Standart Asuhan Keperawatan Jiwa Edisi I. Bandung : RSJP Bandung