pemikiran yg jernih akan menghasilkan sebuah karya seni yg membuat kita bahkan tak percaya kalau itu karya kita jadi semangatkan dirimu untuk berfikir yang jernih

Minggu, 30 September 2012

BAB1


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Makan merupakan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi oleh semua makhluk hidup. Agar makanan yang diserap oleh tubuh dengan baik, maka diperlukan saluran pencernaan yang baik pula. Lambung merupakan salah satu organ dari saluran pencernaan dari mulut, eshopagus, makanan diteruskan ke dalam lambung kemudian dicampur dengan getah lambung serta asam klorida. Pencernaan tahap awal dimulai dari lambung, makanan akan ditampung dalam lambung untuk jangka waktu 3 jam atau lebih. Sehingga kemudian lambung menjadi kosong kembali. Dengan melihat peranan saluran pencernaan dalam proses pencernaan maka diperlukan perubahan makanan baik konsistensi maupun jenis bahan makanan yang diperbolehkan. Dalam hal ini, masih banyak masyarakat yang kurang memperdulikan perihal penyakit ini. Kurangnya pengetahuan atau minimnya pengetahuan yang dimiliki masyarakat tentang makanan yang mereka konsumsi, membuat mereka lebih rentan gastritis, penyebab dan akibat bila tidak mematuhi diit, maka dia akan kambuh yang sewaktu kambuh dia akan mengalami epigastrik pain yang sangat, nausea, muntah, rasa penuh, rasa tidak enak setelah dan sesudah makan. Tetapi kebanyakan mereka tidak mematuhinya walaupun mereka tahu akan resikonya, mereka beranggapan penyakit dapat sembuh dengan sendirinya (Word Rb, 1990).
Dari hasil penelitian, pencatatan dan pelaporan terpadu pada penderita penyakit gastritis di Kelurahan Krembangan Bhakti tahun 2000 rata-rata 1.541 jiwa, sedangkan pada tahun 2001 rata-rata 1577 jiwa. Dan hasil yang didapatkan pada penelitian bulan Agustus di Asrama putri Keperawatan Sutopo Surabaya yang menderita penyakit gastritis ada 15 orang.
Jika penderita radang lambung akut tidak dirawat dengan baik ia akan menderita radang lambung kronis. Penderita mengalami keluhan seperti rasa mual dan rasa tidak enak setelah makan. Menurut Joko Raharjo di Jakarta tahun 1999 bahwa tidak patuhan pada diit pada penderita gastritis mungkin disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan kesibukan mereka. Ada pendapat lain bahwa ketidak patuhan itu mungkin disebabkn karena sosial budaya / kebiasaan makanan kesukaan terutama usia remaja.
Mengingat hal tersebut di atas maka penanggulangan penyakit gastritis yang baik haruslah dilakukan pada saat dini dengan berbagai tindakan, diantaranya memberikan informasi kepada penderita gastritis tentang pentingnya pengetahuan terhadap diit penderita gastritis. Dalam hal ini peran keluarga, teman dan perawat sangat penting, peran keluarga dan teman adalah sebagai motifator, pendorong, pendukung yang paling dekat dengan penderita.
Dari uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian guna mengetahui tingkat pengetahuan penderita gastritis terhadap diit pada penyakit gastritis.

1.2  Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu :
“Bagaimana gambaran penderita gastritis mengenai diit pada penyakit gastritis” ?

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1    Tujuan Umum
Diketahuinya tingkat gambaran penderita gastritis mengenai diit pada penderita gastritis.
1.3.2    Tujuan Khusus
1.  Mengidentifikasi gambaran penderita gastritis
2.  Mengidentifikasi diit pada penyakit gastritis
3.  Mengidentifikasi tingkat gambaran terhadap diit pada penderita gastritis



1.4  Manfaat Penelitian
  1. Untuk peneliti
1)      Dapat menerapkan prinsip dan metode penelitian serta memanfaatkan hasil dari penelitian sehingga dapat meningkatkan dan menambah pengetahuan tentang penelitian ilmiah dan ketrampilan dalam penerapan penelitian.
2)      Melatih untuk dapat menggali informasi dari responden melalui pendekatan.
  1. Untuk masyarakat
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai informasi bagi masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang gambaran terhadap diit pada penyakit gastritis.
  1. Untuk pemerintah
1)      Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi peneliti berikutnya.
2)      Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai petunjuk bagi petugas kesehatan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan.


Kamis, 27 September 2012

Akep Teori Diare


DIARE
DEFINISI
Diare adalah buang air besar (defekasi)  dengan jumlah yinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 cc/jam tinja). Dengan tinja berbentuk cair /setengan padat, dapat disertai frekuensi yang meningkat. Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer lebih dari 3 x sehari. Diare terbagi 2 berdasarkan mula dan lamanya , yaitu diare akut dan kronis (Mansjoer,A.1999,501).

ETIOLOGI
1.      Faktor infeksi : Bakteri ( Shigella, Shalmonella, Vibrio kholera), Virus (Enterovirus), parasit (cacing), Kandida (Candida Albicans).
2.      Faktor parentral : Infeksi dibagian tubuh lain (OMA sering terjadi pada anak-anak).
3.      Faktor malabsorbsi : Karbihidrat, lemak,  protein.
4.      Faktor makanan : Makanan basi, beracun, terlampau banyak lemak, sayuran dimasak kutang matang.
5.      Faktor Psikologis : Rasa takut, cema

PATOFISIOLOGI

faktor infeksi               F malabsorbsi             F makanan                   F. Psikologi
                                    KH,Lemak,Protein
 


Masuk dan ber                        meningk. Tek osmo     toksin tak dapat             cemas
kembang dlm                          tik                         diserap                   
  usus

Hipersekresi air           pergeseran air dan                   hiperperistaltik
dan elektrolit               elektrolit ke rongga    
(    isi rongga usus)                usus                   menurunya kesempatan usus
                                                                        menyerap makanan
 




                                                D I A R E
 



Frek. BAB meningkat                                                                     distensi abdomen           
 


Kehilangan cairan & elekt                               integritas kulit        
berlebihan                                                            perianal
 


gg. kes. cairan & elekt             As. Metabl                                         mual, muntah
 



Resiko hipovolemi syok             sesak                                                 nafsu makan
 

                                               
Gang. Oksigensi                                  BB menurun

                                                                                                     
        Gangg. Tumbang

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1.      Identitas
Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan kuman usus merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan penurunan insidence penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau lebih imunitas aktif mulai terbentuk. Kebanyakan kasus karena infeksi  usus asimptomatik dan kuman enteric menyebar terutama klien tidak menyadari adanya infeksi. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan perawatannya .
2.      Keluhan Utama
BAB lebih dari 3 x
3.      Riwayat Penyakit Sekarang
BAB warna kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).
4.      Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA campak.
5.      Riwayat Nutrisi
Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa, porsi yang diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. kekurangan gizi pada anak usia toddler sangat rentan,. Cara pengelolahan makanan yang baik, menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, kebiasan cuci tangan,
6.      Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.

7.      Riwayat Kesehatan Lingkungan
Penyimpanan  makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan, lingkungan tempat tinggal.
8.      Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan
a.       Pertumbuhan
o   Kenaikan BB karena umur 1 –3 tahun berkisar antara 1,5-2,5 kg (rata-rata 2 kg),  PB 6-10 cm (rata-rata 8 cm) pertahun.
o   Kenaikan linkar kepala : 12cm ditahun pertama dan 2 cm ditahun kedua dan seterusnya.
o   Tumbuh gigi 8 buah : tambahan gigi susu; geraham pertama dan gigi taring, seluruhnya berjumlah 14 – 16 buah
o   Erupsi gigi : geraham perama menusul gigi taring.
b.      Perkembangan
o   Tahap perkembangan Psikoseksual menurut Sigmund Freud.
Fase anal :
Pengeluaran tinja menjadi sumber kepuasan libido, meulai menunjukan keakuannya, cinta diri sendiri/ egoistic, mulai kenal dengan tubuhnya, tugas utamanyan adalah latihan kebersihan, perkembangan bicra dan bahasa (meniru dan mengulang kata sederhana, hubungna interpersonal, bermain).
o   Tahap perkembangan psikososial menurut Erik Erikson.
Autonomy vs Shame and doundt
Perkembangn ketrampilan motorik dan bahasa dipelajari anak toddler dari lingkungan dan keuntungan yang ia peroleh Dario kemam puannya untuk mandiri (tak tergantug). Melalui dorongan orang tua untuk makan, berpakaian, BAB sendiri, jika orang tua terlalu over protektif menuntut harapan yanag terlalu tinggi maka anak akan merasa malu dan ragu-ragu seperti juga halnya perasaan tidak mampu yang dapat berkembang pada diri anak.
o   Gerakan kasar dan halus, bacara, bahasa dan kecerdasan, bergaul dan mandiri : Umur 2-3 tahun :
1.      berdiri  dengan satu kaki tampa berpegangan sedikitpun  2 hitungan (GK)
2.      Meniru membuat garis lurus (GH)
3.      Menyatakan keinginan   sedikitnya dengan dua kata (BBK)
4.      Melepasa pakaian sendiri (BM)
9.      Pemeriksaan Fisik
a.       pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar,
b.      keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.
c.       Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun lebih
d.      Mata : cekung, kering, sangat cekung
e.       Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum
f.       Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan)
g.      Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare sedang .
h.       Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu meningkat > 375 0 c, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
i.        Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ), frekuensi berkurang dari sebelum sakit.
j.        Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.
10.  Pemeriksaan Penunjang
1)         Laboratorium :
·            feses kultur : Bakteri, virus, parasit, candida
·            Serum elektrolit : Hipo natremi, Hipernatremi, hipokalemi
·            AGD : asidosis metabolic ( Ph menurun, pO2 meningkat, pcO2 meningkat, HCO3 menurun )
·            Faal ginjal : UC meningkat (GGA)
2)         Radiologi : mungkin ditemukan bronchopemoni

PENATALAKSANAAN DIARE
Rehidrasi
1.      jenis cairan
1)      Cara rehidrasi oral
o   Formula lengkap (NaCl, NaHCO3, KCl dan Glukosa) seperti orali, pedyalit setiap kali diare.
o   Formula sederhana ( NaCl dan sukrosa)
2)      Cara parenteral
o  Cairan I  : RL dan NS
o  Cairan II : D5  ¼ salin,nabic. KCL
      D5 : RL = 4 : 1  + KCL
      D5 + 6 cc NaCl 15 % + Nabic (7 mEq/lt) + KCL
o  HSD (half strengh darrow) D ½  2,5 NS cairan khusus pada diare usia > 3 bulan.
2.      Jalan pemberian
1)      Oral  (dehidrasi sedang, anak mau minum, kesadaran baik)
2)      Intra gastric ( bila anak tak mau minum,makan, kesadran menurun)

3.      Jumlah Cairan ; tergantung pada :
1)      Defisit ( derajat dehidrasi)
2)      Kehilangan sesaat (concurrent less)
3)      Rumatan (maintenance).
4.      Jadwal / kecepatan cairan
1)      Pada anak usia 1- 5 tahun dengan pemberian 3 gelas bila berat badanya kurang lebih 13 kg : maka pemberianya adalah :
o   BB (kg) x 50 cc
o   BB (kg) x 10 – 20 = 130 – 260 cc setiap diare = 1 gls.
2)      Terapi standar pada anak dengan diare sedang :
+ 50 cc/kg/3 jam  atau 5 tetes/kg/mnt


Terapi
1.      obat anti sekresi : Asetosal, 25 mg/hari dengan dosis minimal 30 mg
klorpromazine 0,5 – 1 mg / kg BB/hari
2.      onat anti spasmotik : Papaverin, opium, loperamide
3.      antibiotik :  bila penyebab jelas, ada penyakit penyerta

Dietetik
a.         Umur > 1 tahun dengan BB>7 kg, makanan  padat / makanan cair atau susu
b.         Dalam keadaan malbasorbsi berat serta alergi protein susu sapi dapat diberi elemen atau semi elemental formula.
Supportif
Vitamin A 200.000. IU/IM, usia 1 – 5 tahun

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare atau output berlebihan dan intake yang kurang
2.      Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare.
3.      Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi skunder terhadap diare
4.      Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekwensi diare.
5.      Resiko tinggi gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan BB menurun terus menerus.
6.      Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive

INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa 1: Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal
Kriteria hasil :
o   Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50  c, RR : < 40 x/mnt )
o   Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.
o   Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari
Intervensi :
1)        Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
R/ Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekataj urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki defisit
2)        Pantau intake dan output
R/ Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak aadekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.
3)        Timbang berat badan setiap hari
R/ Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1 lt
4)        Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr
R/ Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
5)        Kolaborasi :
-          Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
R/ koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).
-          Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur
R/ Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.
-          Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
R/ anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.

Diagnosa 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan out put
Tujuan        : setelah dilakukan  tindakan perawatan selama dirumah di RS kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria        : - Nafsu makan meningkat
-          BB meningkat atau normal sesuai umur
Intervensi :
1)        Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin)
R/ Serat tinggi, lemak,air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi lambung dan sluran usus.
2)        Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau  yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat
R/ situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.
3)        Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan
R/ Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan
4)        Monitor  intake dan out put dalam 24 jam
R/ Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.
5)        Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :
a.       terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu
b.      obat-obatan atau vitamin ( A)
R/ Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan


Diagnosa 3 : Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare
Tujuan        :  Stelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi peningkatan suhu tubuh
Kriteria hasil : suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)
                         Tidak terdapat tanda infeksi (rubur, dolor, kalor, tumor, fungtio leasa)
Intervensi :
1)        Monitor suhu tubuh setiap 2 jam
R/ Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh ( adanya infeksi)
2)        Berikan kompres hangat
R/ merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh
3)        Kolaborasi pemberian antipirektik
R/ Merangsang pusat pengatur panas di otak

Diagnosa 4 :Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan   peningkatan frekwensi BAB (diare)
Tujuan      : setelah dilakukan tindaka keperawtan selama di rumah sakit integritas kulit tidak terganggu
Kriteria hasil : - Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga
-             Keluarga mampu mendemontrasikan perawatan perianal dengan baik dan benar
Intervensi :
1)        Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur
R/ Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman
2)        Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan mengganti pakaian bawah serta alasnya)
R/ Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelebaban dan keasaman feces
3)        Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam
R/ Melancarkan vaskulerisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga tak terjadi iskemi dan irirtasi .

Diagnosa 5 : Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive
Tujuan      : setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, klien mampu beradaptasi
Kriteria hasil :  Mau menerima  tindakan perawatan, klien tampak tenang dan tidak rewel
 Intervensi :
1)      Libatkan keluarga dalam melakukan  tindakan perawatan
R/ Pendekatan awal pada anak melalui ibu atau keluarga
2)      Hindari persepsi yang salah pada perawat dan RS
R/ mengurangi rasa takut anak terhadap perawat dan lingkungan RS
3)      Berikan pujian jika klien mau diberikan tindakan perawatan dan pengobatan
R/ menambah rasa percaya diri anak akan keberanian dan kemampuannya
4)      Lakukan kontak sesering mungkin dan lakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal (sentuhan, belaian dll)
R/ Kasih saying serta pengenalan diri perawat akan menunbuhkan rasa aman pada klien.
5)      Berikan mainan sebagai rangsang sensori anak


DAFTAR PUSTAKA

Bates. B, 1995. Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan.  Ed 2. EGC. Jakarta
Carpenitto.LJ. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Ed 6. EGC. Jakarta.
Lab/ UPF IKA, 1994.  Pedoman Diagnosa dan Terapi .  RSUD Dr. Soetomo. Surabaya.
Markum.AH. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
Ngastiyah. 1997.  Perawatan Anak sakit. EGC. Jakarta
Soetjiningsih, 1995.  Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta
Suryanah,2000.  Keperawatan Anak.  EGC. Jakarta
Doengoes,2000. Asuhan Keperawatan Maternal/ Bayi. EGC. Jakarta

Rabu, 26 September 2012


LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS
APPENDIKSITIS

A.    KONSEP DASAR

              I.      PENGERTIAN

Appendiksitis adalah peradangan dari appendik, saluran sempit yang meluasa dari bagian inferior (Sharon Mentik, 1996 : 1150). Appendiksitis adalah peradangan pada appendik yang mengenai semua lapisan dinding organ tersebut. (Syivia A Price, 1995 : 401)

           



























        III.      GEJALA KLINIS

Keluhan appendisitis biasanya bermula dari nyeri dibawah ambilikis atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2 – 12 Jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi, tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual, muntah, leukositosis moderat. Bila neptura appendiks terjadi, nyeri seingkali hilang secara dramatis untuk sementara.

        IV.      PENATALAKSANAAN

1.Sebelum Operasi
a.       Observasi
Dalam 8 – 12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala appendiksitis sering kali masih belum jelas. Dalam keadaan ini obeservasi ketat perlu dilakukan pasien diminta melakukan tirah baring dan dipuasakan. Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah (leukosit) diulang secara periodik. Foto abdomen dan toraks tegak dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain.
b.      Intubasi bila perlu
c.       Antibiotik
2.Operasi appendiktom;
3.Pasca Operasi
Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan di dalam, syok, hypertermia, atau gangguan pernafasan. pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasin atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi usus kembali normal. Kemudian berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4 – 5 jam lalu naikkan menjadi 30 ml/jam. Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak ditempat tidur selama 2x30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk diluar kamar. Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

           V.      PEMERIKSAAN PENUNJANG

·         SDP :  leukositosis diatas 12.000 / mm3.
      Neutrofri meningkat sampai 75 %
      (Nilai normal : 4500 – 10.000 UI)
·         Urinalis : Normal, tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada
·         Foto abdomen : dapat menyatakan adanya penegrasan material pada appendiks (Fecalisth), rileus terlokalisir.

B.     ASUHAN KEPERAWATAN

Merupakan tindakan metode yang digunakan untuk memecahkan masalah dalam upaya memeperbaiki atau memelihara klien sampai ketahap optimal melalui suatu pendekatan yang sistematis untuk mengenal klien untuk memenuhi kebutuhannya.

              I.      PENGKAJIAN

Pengumpulan data
1.      Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, no register, diagnosa medis, tanggal MRS.
2.      Keluhan Utama
Biasanya klien mengeluh sakit (nyeri) perut kanan bawah, anoreksia, mual dan muntah suhu badan sub febris 37,5oC – 38,5oC.
3.      Riwayat Penyakit dahulu
Biasanya klien dengan appendiks akan mengalami nyeri di perut, kanan bawah yang hebat dan berulang sulit BAB.
4.      Riwayat Penyakit sekarang.
Pada umumnya penderita mengeluh nyeri perut kanan bawah dan sering mual, muntah di sertai panas dalam meningkat.
5.      Riwayat kesehatan keluarga
Di dalam anggota keluarga yang lainnya tidak ada yang pernah menderita penyakit yang seperti diderita klien saat ini.
6.      Pola-pola fungsi
a.       Pola aktivitas dan istirahat.
Aktivitas klien terganggu karena lemah dan malaise.
b.      Pola Nutrisi dan Metabolisme
Kebutuhan nutrisi kurang karena adanya mual, muntah, anoreksia
c.       Pola Eliminasi
Perubahan pola eliminasi, mengalami konstipasi, diare (kadang-kadang).
d.      Pola Istirahat dan Tidur
Klien mengalami gangguan (< 8 jam / hari) karena klien mengalami nyeri abdomen.
e.       Pola Perspesi dan Konsep diri
Klien merasa cemas dan gelisah dengan perubahan yang dialami.

f.       Pola Sensorik dan Kognitif.
Ada keluhan nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus yang meningkat berat dan terlokalisir.
           
Ø  PEMERIKSAAN FISIK
-        INSPEKSI
Inspeksi daerah abdomen tidak menunjukkan kelainan.
-        AUSKULTASI
Peristalistik mungkin berkurang, tetapi biasanya normal.
-        PALPASI
Nyeri akan berasal dari kuadran kanan bawah, palpasi dengan satu jari.

Ø  PEMERIKSAAN KHUSUS
-        Rebound Tenderness (Nyeri tekan lepas)
Rasa nyeri ditimbulkan dengan tekanan yang kuat pada abdomen ditempat yang jauh dari proses inflamasi yang kita curigai, kemudian tekanan kita lepaskan dengan tiba-tiba.
-        Iliopsoas Test.
Penderita diminta memfleksikan a culatio coxae melawan tahanan yang kita berikan. Kalau proses radang yang letaknya dekat dengan musculus psoas dengan pemeriksaan tadi penderita akan merasa sakit. Gangguan dalam derajat rendah dapat diketahui dengan menyuruh penderita berbaring pada sisi yang berlawanan dan memfleksikan paha pada posisi yang terkena seluas-luasnya.
-        Obsturator Test
Disini paha dilipat / ditekuk 90 derajat kemudian diadakan endorotasi dan exorotasi. Rasa nyeri pada hipogastrium dapat ditimbulkan jika ada massa radang yang letaknya bersebtuhan. Hal ini mungki positif jika ada appendiksitis pelvis ataupun timbunan cairan atau darah pada pelvis.








           II.      DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      Nyeri (akut) berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi
2.      Resti kekurangan volume cairan berhubungan dengan anoreksia, muntah, demam.
3.      Ansieras berhubungan dengan status kesehatan, faktor fisiologis

        III.      PERENCANAAN

Dx 1
Nyeri (akut) berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi
TUJUAN :
Nyeri hilang atau terkontrol
KRITERIA HASIL :
-        Nyeri berkurang
-        skala nyeri O
-        Klien tidak menyeringai
RENCANA TINDAKAN
1.      Kaji ulang tingkat atau skala nyeri
2.      Jelaskan sebab-sebab timbulnya nyeri
3.      Beri penjelasan tentang manfaat dan tehnik relaksasi, distraksi dan anjurkan untuk melakukan tehnik tersebut
4.      Kolaborasi dengan medis dalam pemberian analgesik dan antibiotik
RASIONAL
1.      Untuk mengetahui atau menentukan tingkat keparahan.
2.      Menambah tingkat pengetahuan individu tentang penyakitnya.
3.      Meningkatkan pengetahuan individu dan dapat mengantisipasi lebih awal bila timbul nyeri.
4.      Membantu untuk mengatasi nyeri dan antibiotik diperlukan untuk mencegah dan mengatasi infeksi.

Dx 2
Resti kekurangan volume cairan berhubungan dengan anoreksia, mual.
TUJUAN :
Kebutuhan volume cairan tubuh terpenuhi.
KRITERIA HASIL :
-        Kebutuhan volume cairan terpenuhi
-        Mampu menyebutkan dampak dari anoreksia, muntah
-        Menerima dan mau dilakukannya tindakan untuk mengurangi muntah, anoreksio
RENCANA TINDAKAN
1.      Berikan intake nutrisi dan cairan yang adekuat.
2.      Jelaskan dampak yang dapat ditimbulkan dari anoreksia, muntah.
3.      Jelaskan pada individu tentang tehnik relaksasi sebelum makan.
4.      Awasi tanda vital, status membran mukosa dan turgor kulit.
RASIONAL
1.      Nutrisi yang adekuat dapat meningkatkan daya tahan tubuh individu.
2.      Adanya anoreksia, muntah dapat menyebabkan resiko kurang volume cairan.
3.      Untuk mengurangi perasaan tegang pada lambung.
4.      Untuk mengetahui perubahan yang terjadi.

Dx 3
Ansietas berhubungan dengan status kesehatan, faktor fisiologis, kurang pengetahuan.
TUJUAN :
Cemas berkurang dan mau menerima perubahan pada dirinya.
KRITERIA HASIL
-        Mau dan menerima dilakukannya tindakan untuk mengurangi kecemasan.
-        Mampu menyebutkan penyebab dari kecemasan.
RENCANA TINDAKAN
1.      Berikan informasi tentang penyakit dan antisipasi tindakan.
2.      Jelaskan tentang pentingnya istirahat yang cukup.
3.      Evaluasi tingkat kecemasan (ringan, sedang, berat).
4.      Berikan aktivitas yang dapat mengurangi ketegangan (Aktivitas fisik).
RASIONAL
1.      Untuk mengurangi tingkat kecemasan individu.
2.      Istirahat cukup dapat mengurangi ketegangan .
3.      Untuk mengetahui tingkat kecemasan klien.
4.      Dapat menurunkan tingkat ansieras dan mengurangi ketegangan.

        IV.      IMPLEMENTASI

Implementasi yang dimaksud adalah pengelolaan dan perwujutan dari rencana perawatan,meliputi tindakan perawatan yang direncanakan oleh perawat, melaksanakan advis dokter dan ketentuan rumah sakit.

           V.      EVALUASI

Perbandingan yang sistematis dari rencana tindakan masalah kesehatan dengan tujuan yang telah ditetapkan dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan yang lain. (Nasrul effendi, 1995)


































DAFTAR PUSTAKA



1)      Areif Mnasjoer dkk (2000), kapita Selekta Kedokteran, Jakarta, Media Aesculapius, FKUI.
2)      Pedoman Diagnosa dan Terapi, lab / UPF Ilmu Bedah, 1994 rumah sakit Umum Daerah Soetomo, Surabaya.
3)      Marlyn E. Doenges (2001), Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, 1994.
4)      Nasrul Effendi (1995), Pengantar Proses Keperawatan, Jakarta EGC.
5)      Carpenito Lynda Juail (2000), Diagnosa Keperawatan, Jakarta, EGC.