pemikiran yg jernih akan menghasilkan sebuah karya seni yg membuat kita bahkan tak percaya kalau itu karya kita jadi semangatkan dirimu untuk berfikir yang jernih

Kamis, 10 Januari 2013

gagal ginjal kronik


GAGAL GINJAL KRONIK
A.    PENGERTIAN
Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah kemunduran fungsi ginjal yang menyebabkan ketidakmampuan mempertahankan substansi tubuh dibawah kondisi normal (Betz Sowden, 2002  )
Gagal Ginjal Kronik adalah kerusakan yang progresif pada nefron yang mengarah pada timbulnya uremia yang secara perlahan-lahan meningkat ( Rosa M. Sacharin, 1996).
Dari kedua pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa gagal ginjal kronis adalah adanya kerusakan fungsi ginjal secara progresif sehingga tubuh akan mengalami gangguan karena ginjal tidak mampu mempertahnkan substansi tubuh dalam keadaan nomal.

B.     ETIOLOGI
1.      Glomerulonefritis
2.      Pielonefritis
3.      Nefrosklerosis
4.      Sindroma Nefrotik
5.      Tumor Ginjal

C.    PATOFISIOLOGI
Ginjal mempunyai kemampuan nyata untuk mengkompensasi kehilangan nefron yang persisten yang terjadi pada gagal ginjal kronik. Jika angka filtrasi glomerolus menurun menjadi 5-20 ml/menit/1,73 m2, kapasitas ini mulai gagal. Hal ini menimbulkan berbagai masalah biokimia berhubungan dengan bahan utama yang ditangani ginjal.
Ketidakseimbangan natrium dan cairan terjadi karena ketidakmampuan ginjal untuk memekatkan urin. Hiperkalemia terjadi akibat penurunan sekresi kalium. Asidosis metabolik terjadi karena kerusakan reabsorbsi bikarbonat dan produksi ammonia. Demineralisasi tulang dan gangguan pertumbuhan terjadi akibat sekresi hormon paratiroid, peningkatan fosfat plasma (penurunan kalsium serum, asidosis) menyebabkan pelepasan kalsium dan fosfor ke dalam aliran darah dan gangguan penyerapan kalsium usus. Anemia terjadi karena gangguan produksi sel darah merah, penurunan rentang hidup sel darah merah, peningkatan kecenderungan perdarahan (akibat kerusakan fungsi trombosit). Perubahan pertumbuhan berhubungan dengan perubahan nutrisi dan berbagai proses biokimia









PATHWAYS
Glomerulonefritis
Pielonefritis, Hidronefrosis
Sindroma Nefrotik
Tumur Ginjal

GFR menurun

GGK









 

Sekresi protein
terganggu


 





Sindrom uremik
Retensi natrium


 


CES








 

Tekanan kapiler


 

Volume interstisial


 

Edema


 


Kelebihan voleme cairan



 


Sekresi eritropoietin


 

Produksi Hb turun


 

Suplai oksigen ke jaringan
 


Gangguan perfusi jaringan

Hiperphospatemia


 

Pruritus








 


Gangguan integritas kulit

Gangguan keseimbangan
asam basa








 

Produksi asam


 

Asidosis metabolik

Urokrom tertimbun di kulit


 


Perubahan warna kulit




D.    MANIFESTASI KLINIK

Meskipun gejala yang dialami anak bervariasi berdasarkan proses penyakit yang berbeda – beda, penyakit paling umum yang berhubungan dengan GGK adalah sebagai berikut :
1.     Ketidakseimbangan cairan
a.  Kelebihan cairan : edema, oliguri, hipertensi, gagal jantung kongestif
b.      Penipisan volume vaskuler : poliuria, penurunan asupan cairan,  dehidrasi
2.     Ketidakseimbangan elektrolit
a.        Hiperkalemia : gangguan irama jantung, disfungsi miokardial
b.       Hipernatremia : haus, stupor, takikardia, membran kering, peningkatan refleks tendon profunda, penurunan tingkat kesadaran
c.        Hipokalemia dan hiperfosfatemia : iritabilitas, depresi, kram otot, parastesia, psikosis, tetani
d.       Hipokalemia : penurunan reflek tendon profunda, hipotonia, perubahan EKG
3.     Ensefalopati dan neuropati uremik
a.  Gatal gatal
b.  Kram dan kelemahan otot
c.  Bicara tidak jelas
d. Parastesia telapak tangan dan telapak kaki
e.  Konsentrasi buruk
f.   Mengantuk
g.  Tanda tanda peningkatan tekanan intrakranial
h.  Koma
i.    Kejang
4.     Asidosis : takipnea
5.     Anemia dan disfungsi sel darah
a.  Pucat
b.  Kelemahan
c.  Perdarahan ( stomatitis, feses berdarah )
6.     Disfungsi pertumbuhan
a.  Pertumbuhan tulang yang abnormal
b.  Perkembangan seksual yang terhambat
c.  Malnutrisi dan pelisutan otot
d. Selera makan buruk
e.  Nyeri tulang
f.   Ketidakteraturan menstruasi.

E.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.      Tes darah
Ó BUN dan kreatinin serum meningkat
Ó Kalium serum meningkat
Ó Natrium serum meningkat
Ó Kalsium serum menurun, fosfor serum meningkat, PH serum dan HCO3 menurun
Ó Hb, Ht, trombosit menurun
Ó Asam urat meningkat, kultur darah positif
2.      Tes urin
Ó Urinalisis
Ó Elektrolit urin, osmolalitas dan berat jenis
Ó Urin 24 jam
3.      EKG
4.      Rontgen dada
5.      Biopsi Ginjal

F.     PENATALAKSANAAN
1.      Stabilkan keseimbangan cairan dan elektrolit
2.      Dukung fungsi kardiovaskuler
3.      Cegah infeksi
4.      Tingkatkan status nutrisi
5.       Kendalikan perdarahan dan anemia
6.      Lakukan dialisis
7.      Transplantasi ginjal

G.    ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GGK

1.     PENGKAJIAN
a.      Kaji adanya tanda dan gejala kelebihan volume cairan ( edema, kulit tegang dan mengilat, asupan lebih besar daripada keluaran dan berat badan bertambah )
b.      Kaji adanya tanda dan gejala penurunan curah jantung, kekurangan olume cairan dan pola nafas tak efektif
c.      Kaji adanya tanda dan gejala masalah masalah kolaboratif potensial berikut ini : syok,infeksi, kelebihn cairan, hipertensi, gagal jantung, edema pulmonal, ketidakseimbangan elektrolit, koma, kejang
d.     Kaji adanya tanda dan gejala infeksi
e.      Kaji pertumbuhan dan perkembangan biopsikososial dan spiritual anak
f.       Kaji tingkat aktivitas dan respon koping anak
g.      Kaji kemampuan keluarga untuk penatalaksanaan dan melakukan koping terhadap perawatan jangka panjang dan kebutuhan anak mereka.

2.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.      Kelebihan volume cairan
b.      Resiko tinggi kekurangan volume cairan
c.      Perubahan pola eliminasi urin
d.     Penurunan curah jantung
e.      Pola nafas tidak efektif
f.       Resiko tinggi kerusakan integritas kulit
g.      Resiko tinggi cidera
h.      Resiko tinggi infeksi
i.        Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan
j.        Resiko tinggi penatalaksanaan program terapeutik tidak efektif
k.      Resiko tinggi perubahan proses keluarga
l.        Resiko tinggi perubahan tumbang

3.     INTERVENSI KEPERAWATAN
a.      Pantau statua cairan dan elektrolit
§  Catat dengan akurat asupan dan keluaran
§  Pertahankan pembatasan cairan
§  Pantau status hidrasi
§  Berikan diuretik dan pantau respon anak terhadapnya
§  Berikan obat obatan untuk mempertahankan keseimbangan  elktrolit
§  Berikan terapi dialisis sesuai instruksi
b.      Dukung fungsi kardiovaskuler dan paru
§  Pantau adanya kelebihan cairan
§  Pantau adanya tanda tanda dehidrasi
§  Pantau adanya perubahan EKG yang berhubungan dengan ketidakseimbangan elktrolit
§  Pantau tanda tanda vital, termasuk tekanan darah, pemberian antihipertensi sesuai indikasi
§  Berikan produk darah sesuai instruksi
c.      Pertahankan integritas kulit dan cegah terjadinya infeksi
§  Mandikan pasien tiap hari dan berikan perawatan mulut dengan sering
§  Bantu pasien untuk miring kiri dan kanan sesuai kebutuhan: cegah terjadinya dekubitus
§  Lakukan pencegahan perdarahan
§  Hindari kontak pasien dengan pengunjung infeksius
§  Pertahankan sterilitas semua jalur jalur invasif dan lakukan pengantian balutan serta perawatan jalur jalur tersebut seperlunya dan tepat waktu
§  Pantau adanya tanda tanda infeksi
d.     Tingkatkan pertumbuhan dan nutrisi klien
§  Bantu klien dalam memilih makanan yang disukainya dengan menyarankn diet yang rendah kalium, rendah natrium, rendah fosfor, tinggi kalsium, tinggi protein.
§  Pantau status pertumbuhan pasien dengan mengkaji kecenderungan pertumbuhan
§  Berikan makanan enteral atau IV seperlunya
§  Berikan vitamin, suplemen kalsium dan pengikat osfat
§  Berikan dukungn psikososial pada klien dan keluarga.


















DAFTAR PUSTAKA


  1. Betz Cecily L, Sowden Linda A. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC.
  2. Sacharin Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Maulanny R.F. Jakarta : EGC.
  3. Price Sylvia A, Wilson Lorraine McCarty. (1995). Patofisiologi. Jakarta : EGC.
  4. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI. (2000). Ilmu Kesehatan Anak. Jilid  2. Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI
  5. ……….,The Merck Manual of Diagnosis and Therapy. Chronic renal Failure.Sec.17.Ch222.http://www.vh.org/adult/provider/familymedicine.
      html
  1. Nanny.S,(2001).Intisari online.Disiplin Ketat Penderita Gagal Ginjal. www. Indomedia.com/intisari/2001/juni/Terapi_601.htm.
  2. Agha, I.A,(2003). Medical Encyclopedia. Chronic Renal Failure.Departement of medicine, renal division, St. Louis University
  3. Horne M.M, Swearingen P L,(2000).Keseimbangan Cairan,Elektrolit Dan Asam Basa. Jakarta : EGC
  4. Wong and whaley. (1996). Clinical Manual of Pediatric Nursing


















Selasa, 11 Desember 2012

Paporan Pendahuluan Dengan HIV AIDS


Laporan Pendahuluan
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS


Konsep Dasar
I.       Pengertian
AIDS adalah sindroma yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan tejadinya defisiensi, tersebut seperti keganasan, obat-obat supresi imun, penyakit infeksi yang sudah dikenal dan sebagainya.

II.     Etiologi
Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan keduanya disebut HIV.
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
  1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala.
  2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness.
  3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.
  4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari, B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.
  5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system tubuh, dan manifestasi neurologist.
AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
  1. Lelaki homoseksual atau biseks.                    5. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.
  2. Orang yang ketagian obat intravena
  3. Partner seks dari penderita AIDS
  4. Penerima darah atau produk darah (transfusi).
  5. I.       Pemeriksaan Diagnostik
  6. 1.     Tes untuk diagnosa infeksi HIV :
    -        ELISA
    -        Western blot
    -        P24 antigen test
    -        Kultur HIV
    2.     Tes untuk deteksi gangguan system imun.
    -        Hematokrit.
    -        LED
    -        CD4 limfosit
    -        Rasio CD4/CD limfosit
    -        Serum mikroglobulin B2
    -        Hemoglobulin

    II.     Penatalaksanaan

    Asuhan Keperawatan
    I.       Pengkajian.
    1.     Riwayat : tes HIV positif, riwayat perilaku beresiko tinggi, menggunakan obat-obat.
    2.     Penampilan umum : pucat, kelaparan.
    3.     Gejala subyektif : demam kronik, dengan atau tanpa menggigil, keringat malam hari berulang kali, lemah, lelah, anoreksia, BB menurun, nyeri, sulit tidur.
    4.     Psikososial : kehilangan pekerjaan dan penghasilan, perubahan pola hidup, ungkapkan perasaan takut, cemas, meringis.
    5.     Status mental : marah atau pasrah, depresi, ide bunuh diri, apati, withdrawl, hilang interest pada lingkungan sekitar, gangguan prooses piker, hilang memori, gangguan atensi dan konsentrasi, halusinasi dan delusi.
    6.     HEENT : nyeri periorbital, fotophobia, sakit kepala, edem muka, tinitus, ulser pada bibir atau mulut, mulut kering, suara berubah, disfagia, epsitaksis.
    7.     Neurologis :gangguan refleks pupil, nystagmus, vertigo, ketidakseimbangan , kaku kuduk, kejang, paraplegia.
    8.     Muskuloskletal : focal motor deifisit, lemah, tidak mampu melakukan ADL.
    9.     Kardiovaskuler ; takikardi, sianosis, hipotensi, edem perifer, dizziness.
    10.  Pernapasan : dyspnea, takipnea, sianosis,  SOB, menggunakan otot  Bantu pernapasan, batuk produktif atau non produktif.
    11.  GI : intake makan dan minum menurun, mual, muntah, BB menurun, diare, inkontinensia, perut kram, hepatosplenomegali, kuning.
    12.  Gu : lesi atau eksudat pada genital,
    13.  Integument : kering, gatal, rash atau lesi, turgor jelek, petekie positif.

    II.     Diagnosa keperawatan
    1.     Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.
    2.     Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.
    3.     Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi, kelelahan.
    4.     Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya absorbsi zat gizi.
    5.     Diare berhubungan dengan infeksi GI
    6.     Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang orang dicintai.




    I.       Perencanaan keperawatan.
    Diagnosa Keperawatan
    Perencanaan Keperawatan
    Tujuan dan criteria hasil
    Intervensi
    Rasional
    Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.

    Pasien akan bebas infeksi oportunistik dan komplikasinya dengan kriteria tak ada tanda-tanda infeksi baru, lab tidak ada infeksi oportunis, tanda vital dalam batas normal, tidak ada luka atau eksudat.
    1.     Monitor tanda-tanda infeksi baru.
    2.     gunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasif. Cuci tangan sebelum meberikan tindakan.
    3.     Anjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang patogen.
    4.     Kumpulkan spesimen untuk tes lab sesuai order.
    5.     Atur pemberian antiinfeksi sesuai order  

    Untuk pengobatan dini
    Mencegah pasien terpapar oleh kuman patogen yang diperoleh di rumah sakit.

    Mencegah bertambahnya infeksi


    Meyakinkan diagnosis akurat dan pengobatan

    Mempertahankan kadar darah yang terapeutik
    Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.

    Infeksi HIV tidak ditransmisikan, tim kesehatan memperhatikan universal precautions dengan kriteriaa kontak pasien dan tim kesehatan tidak terpapar HIV, tidak terinfeksi patogen lain seperti TBC.
    1.     Anjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya.
    2.     Gunakan darah dan cairan tubuh precaution bial merawat pasien. Gunakan masker bila perlu.

    Pasien dan keluarga mau dan memerlukan informasikan ini

    Mencegah transimisi infeksi HIV ke orang lain
    Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi, kelelahan.

    Pasien berpartisipasi dalam kegiatan, dengan kriteria bebas dyspnea dan takikardi selama aktivitas.
    1.        Monitor respon fisiologis terhadap aktivitas
    2.        Berikan bantuan perawatan yang pasien sendiri tidak mampu
    3.        Jadwalkan perawatan pasien sehingga tidak mengganggu isitirahat.

    Respon bervariasi dari hari ke hari

    Mengurangi kebutuhan energi

    Ekstra istirahat perlu jika karena meningkatkan kebutuhan metabolik
    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya absorbsi zat gizi.

    Pasien mempunyai intake kalori dan protein yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metaboliknya dengan kriteria mual dan muntah dikontrol, pasien makan TKTP, serum albumin dan protein dalam batas n ormal, BB mendekati seperti sebelum sakit.
    1.        Monitor kemampuan mengunyah dan menelan.
    2.        Monitor BB, intake dan ouput
    3.        Atur antiemetik sesuai order
    4.        Rencanakan diet dengan pasien dan orang penting lainnya.

    Intake menurun dihubungkan dengan nyeri tenggorokan dan mulut
    Menentukan data dasar
    Mengurangi muntah
    Meyakinkan bahwa makanan sesuai dengan keinginan pasien

    Diare berhubungan dengan infeksi GI

    Pasien merasa nyaman dan mengnontrol diare, komplikasi minimal dengan kriteria perut lunak, tidak tegang, feses lunak dan warna normal, kram perut hilang,
    1.        Kaji konsistensi dan frekuensi  feses dan adanya darah.
    2.        Auskultasi bunyi usus
    3.        Atur agen antimotilitas dan psilium (Metamucil) sesuai order
    4.        Berikan ointment A dan D, vaselin atau zinc oside
    Mendeteksi adanya darah dalam feses

    Hipermotiliti mumnya dengan diare
    Mengurangi motilitas usus,  yang pelan, emperburuk perforasi pada intestinal
    Untuk menghilangkan distensi
    Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang orang dicintai.

    Keluarga atau orang penting lain mempertahankan suport sistem dan adaptasi terhadap perubahan akan kebutuhannya dengan kriteria pasien dan keluarga berinteraksi dengan cara yang konstruktif
    1.    Kaji koping keluarga terhadap sakit pasein dan perawatannya
    2.    Biarkan keluarga mengungkapkana perasaan secara verbal
    3.    Ajarkan kepada keluaraga tentang penyakit dan transmisinya.

    Memulai suatu hubungan dalam bekerja secara konstruktif dengan keluarga.
    Mereka tak menyadari bahwa mereka berbicara secara bebas
    Menghilangkan kecemasan tentang transmisi melalui kontak sederhana.





    Daftar Pustaka

    Grimes, E.D, Grimes, R.M, and Hamelik, M, 1991, Infectious Diseases, Mosby Year Book, Toronto.

    Christine L. Mudge-Grout, 1992, Immunologic Disorders, Mosby Year Book, St. Louis.

    Rampengan dan Laurentz, 1995, Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak, cetakan kedua, EGC, Jakarta.

    Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi, RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

    Lyke, Merchant Evelyn, 1992, Assesing for Nursing Diagnosis ; A Human Needs Approach,J.B. Lippincott Company, London.

    Phipps, Wilma. et al, 1991, Medical Surgical Nursing : Concepts and Clinical Practice, 4th edition, Mosby Year Book, Toronto

    Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S, EGC, Jakarta